Ubah Dulu Yang Didalam

Agustus 2nd, 2008 by asepmuhsin

Saat renovasi rumah, si empunya rumah sudah merencanakan memasang sebuah lukisan potret keluarga di ruang tamu yang telah ditatanya dengan indah. Lukisan itu telah dipesan melalui seorang seniman pelukis wajah yang terkenal dengan harga yang tidak murah. Tetapi, saat lukisan itu tiba di rumah dan hendak dipasang, dia merasa tidak puas dengan hasil lukisan dan meminta si pelukis merevisiya sesuai dengan gambar yang dibayangkan.

Apa daya, setelah diperbaiki hingga ketiga kalinya, tetap saja ada sesuatu yang tidak disukai pada lukisan tersebut sehingga setiap si pemilik rumah melintas ruang tamu, selalu timbul ketidakpuasan dan kekecewaan. Itu sangatlah mengganggu pikirannya. Menjadikan dirinya tidak senang, uring-uringan, jengkel, kecewa dan sebal dengan ruang tamunya yang indah itu. Semua gara-gara sebuah lukisan!

Suatu hari, datang bertamu satu keluarga sahabat ke rumah itu. Sahabat ini termasuk pengamat seni yang disegani di lingkungannya. Saat memasuki ruang tamu—setelah bertukar sapa begitu akrab dengan tuan rumah—tiba-tiba mereka bersamaan terdiam di depan lukisan potret keluarga itu. Si tuan rumah buru-buru menyela, “Teman, tolong jangan dipelototi begitu, dong. Aku tahu, lukisan itu tidak seindah seperti yang aku mau, tetapi setelah di revisi beberapa kali jadinya seperti itu, ya udah lah, mau apalagi?”

“Lho, apa yang salah dengan lukisan ini? Lukisan ini bagus sekali, sungguh aku tidak sekedar memuji. Si pelukis bisa melihat karakter objek yang dilukisnya dan menuangkan dengan baik di atas kanvas, perpaduan warna di latar belakangnya juga mampu mendukung lukisan utamanya. Betul kan, Bu?” tanyanya sambil menoleh kepada istrinya.

“Iya, lukisan ini indah dan berkarakter. Jarang-jarang kami melihat karya yang cantik seperti ini. Kamu sungguh beruntung memilikinya,” si istri menambahkan dengan bersemangat. Kemudian, mereka pun asyik terlibat diskusi tentang lukisan itu.

Setelah kejadian itu, setiap melintas di ruang tamu dan melihat lukisan potret keluarga itu, dia tersenyum sendiri teringat obrolan dengan sahabatnya. Kejengkelan dan kemarahannya telah lenyap tak berbekas.

Pembaca yang budiman,
Jika sebuah lukisan tidak bisa diubah atau banyak hal lain di luar diri kita yang tidak mampu kita ubah sesuai dengan keinginan kita atau selera kita, maka tidak perlu menyalahkan keadaan! Karena sesungguhnya, belum tentu lukisan atau keadaan luar yang bermasalah, tetapi cara pandang kitalah yang berbeda. Jika kita tidak ingin kehilangan kebahagiaan maka kita harus berusaha menerima perbedaan yang ada.

Dengan mengubah cara berpikir kita yang di dalam, tentu kondisi di luar juga ikut berubah.

Kekuatan Cinta

Agustus 2nd, 2008 by asepmuhsin

Dikisahkan, ada seorang ibu yang sangat menyayangi putra tunggalnya. Karena rasa kuatir yang sangat, ditambah maraknya berita penculikan di media massa, si ibu pun memberi nasihat kepada putranya, “Nak, kalau matahari sudah tidak bersinar lagi, jangan keluar rumah ya. Karena saat gelap seperti itulah roh jahat mulai bermunculan. Ada yang disebut kuntilanak, genderuwo, dan lain-lain. Pokoknya mahkluk jelek, hitam, dan jahat. Maka belajar baik-baik di dalam rumah saja ya, terutama malam hari, oke?” sang anak, yang sedikit penakut, dengan senang hati mematuhi nasehat ibunya.

Setelah beranjak remaja, si anak tumbuh menjadi pemuda cilik yang penakut dan pengecut. Seringkali, ketakutannya yang berlebihan itu terbawa-bawa dalam mimpi. Tidak jarang, ketika tidur ia tiba-tiba terbangun dengan berteriak histeris serta bersimbah peluh ketakutan. Kedua orangtuanya pun menjadi khawatir melihat perkembangan jiwa si anak. Berbagai nasehat bernada menghibur yang disampaikan si orangtua kepada anaknya tidak bermanfaat sama sekali. Bahkan, kadang si anak justru merasa orangtuanya berusaha mencelakai dia.

Suatu hari, sang kakek mendengar kondisi cucunya tersebut. Maka, ia pun segera menyempatkan diri berkunjung ke rumah anaknya. Setelah memikirkan dengan seksama, suatu sore, si kakek mengajak cucunya berjalan-jalan ke pasar malam bersama-sama dengan beberapa orang tetangga dan teman si cucu. Sesampainya di pasar malam itu, mereka pun bersenang-senang. Sang cucu dan teman-temannya bermain dan melihat berbagai pertunjukkan hingga malam hari. Setelah puas dan lelah bermain, mereka pun berjalan kaki pulang ke rumah.

Tiba di rumah, si kakek meneruskan berbincang santai dengan cucunya. “Cucuku, terang dan gelap adalah sifat alam. Tidak ada hubungannya dengan roh gentayangan dan kejahatan. Sudah kita buktikan sendiri, kan? Bukankah sepanjang jalan dalam kegelapan tadi tidak ada satu pun roh jahat yang mengganggu? Ketahuilah, roh jahat hanya ada di pikiran kamu sendiri. Usir dia dari pikiranmu, maka tidak akan ada yang namanya roh jahat di muka bumi ini. Kakek yang sudah setua ini telah membuktikan sendiri. Ketakutan hanya ada di pikiran kita. Gunakan pikiranmu untuk hal-hal yang baik, maka engkau akan membuat segalanya menjadi baik, indah, dan membahagiakan.”

Demikianlah, berkat kata-kata bijak dari si kakek, lewat proses waktu, akhirnya si cucu mampu mengubah mindset dan memiliki kesehatan mentalitas yang positif. Ia pun tumbuh jadi pemuda yang pemberani.

Pembaca yang budiman,

Mendidik anak dengan nada ancaman atau dengan menakutinya, walaupun untuk tujuan yang baik, bisa berdampak buruk dan merusak kesehatan mental, bila tidak disertai dengan pengertian benar!

Hukum pikiran bersifat universal dan berlaku untuk siapa saja, baik anak-anak atau orang dewasa, yakni you are what you think, Anda adalah apa yang Anda pikirkan! Maka, apa yang kita pikirkan, itulah yang akan terjadi. You are what you believe, Anda adalah apa yang Anda percayai!

Karena itu, kalau yang kita tanamkan ke dalam pikiran kita setiap hari adalah hal-hal yang negatif, dampaknya akan destruktif atau merusak. Sebaliknya, kalau baik dan positif sifatnya, tentu dampak dalam kehidupan kita akan menjadi positif dan konstruktif

Pelajaran dari Petugas Palkir

Agustus 2nd, 2008 by asepmuhsin

Untuk mencari sebuah pembelajaran yang bernilai tidak hanya harus kita membaca sebuah buku tebal dengan pengarang yang hebat dan kalimat-kalimat ilmiah yang hanya cendekiawan bisa pahami, tidak juga dari media elektronik maupun cetak, ternyata belajar itu jadi asyik kalau niat kita mulai pagi hari disaat bangun, mau berangkat kerja, sekolah,dan melakukan aktifitas lainnya dimulai dengan niat belajar atau mencari ilmu.

Hari ini saya belajar banyak dari seorang juru palkir, siang tadi saat saya berkunjung ke sebuah toko sambil menunggu giliran, saya memperhatikan seorang juru palkir yang diam dibawah pohon sambi menghisap rokoknya, dia sesekali memperhatikan mobil yang diparkir , banyak orang yang menitipkan mobil serta motor kepada dia, dan disaat mobil/motor tersebuat diambil pemiliknya, tukang palkir itu tersenyum karena dia tahu bahwa mobil dan motor itu bukan miliknya dan dia tahu bahwa pemiliknya akan memberikan sesuatu yang baik untuk tukang palkir itu.

Mari Kita Ambil Pelajaran dan Hikmah dari cerita diatas.

Sungguh Luar Biasa Allah SWT telah menitipkan kepada kita banyak hal dari mulai organ tubuh, kekayaan, apa yang kita miliki, keluarga, dan alam ini, tetapi apa yang terjadi kita sering melalaikan titipan ini,sebagai bukti kita tidak bertanggung jawab atas apa yang telah diamanahkan Alloh SWT kepada kita, organ tubuh kita kadang disakiti hingga rusak dengan tingkah kita, kekayaan, ketika hilang saja, pusingnya tujuh keliling hingga berdampak pada orang lain hingga timbul su’udzon , marilah kita bersabar jika Allah sudah mengambil titipannya maka tetaplah kita tersenyum niscaya Allah akan meberikan sesuatu yang baik kepada kita.

Marilah Belajar dan Teruslah Belajar
Sukses untuk anda

Hati-Hati Ah Sama AIDS

Agustus 2nd, 2008 by asepmuhsin

Say No to Free Sex and Drugs’. Tulisan poster sering kita lihatjal ini ngingetin kita akan bahaya Human Immunodeficiency Virus (HIV). Suatu virus yang menyerang sel darah putih manusia dan menyebabkan menurunnya kekebalan/ daya tahan tubuh, sehingga mudah terserang infeksi/penyakit. Kalo udah parah, tubuh penderita bakal menjadi sarang berbagai penyakit yang tak kunjung sembuh. Kondisi inilah yang disebut AIDS alias Acquired Immunodeficiency Syndrome.

 

Sejak pertama kali dikenali tahun 1981, HIV udah ngabisin kontrak hidup lebih dari 25 juta orang pengidapnya. Kini, pengidapnya sudah melebihi 40 juta orang. Hal tersebut terungkap dalam laporan terakhir epidemi HIV/AIDS PBB yang disiarkan di New Delhi, India, Senin (21/11). (Metrotvnews.com, 21/11/05). Sementara di Indonesia, Jumlah pengidap HIV/AIDS mencapai angka 8.251 orang.

Internet Bagai Sebuah Magnet

Agustus 2nd, 2008 by asepmuhsin

Beberapa bulan terakhir ini hampir setiap dua malam sekali, acara televisi di rumah seolah diakuisisi oleh istri saya dengan me-manteng sebuah acara reality-show Supermama di salah satu stasiun TV Swasta Nasional. Acara ini pun beberapa kali sempat mencuri perhatian saya. Bukan pada esensi atau konsep acara itu sendiri yang menurut saya sesuatu hal yang biasa, tapi ada hal yang membuat saya tertarik pada acara ini adalah sosok sang presenter Eko Patrio. Menurut saya dia ini luar biasa, dengan acara yang kurang lebih berdurasi lima jam. Ditayangkan secara langsung tiga kali seminggu, bagaimana dia bisa membawakan acara sehingga selalu memberi kesan segar acara itu dari awal sampai akhir. Apa yang dia sampaikan tidak pernah basi sehingga selain dibutuhkan stamina yang prima, juga selalu diperlukan keterampilan yang selalu diasah selain tentunya talenta yang dia punyai.

Sehingga keberadaan Eko pada acara tersebut, seperti menjadi sebuah magnet tersendiri. Terbukti ketika suatu saat Eko tidak hadir karena suatu hal sehingga posisinya sebagai host acara digantikan orang lain pada suatu tayangan, konon katanya SMS yang masuk ke acara tersebut bukannya dalam rangka polling terhadap peserta, tapi justru berisi pertanyaan mengapa Eko tidak hadir. Dan pada kenyataannya juga seperti ada yang hilang ketika Eko tidak hadir di sana pada acara tersebut.

Tentunya di artikel ini saya tidak sedang mengulas panjang lebar tentang Eko dengan acara ‘Supermama’-nya. Tapi fenomena bagaimana sosok Eko ini menjadi daya tarik yang luar biasa bagi acara tersebut, mengingatkan saya pada media internet yang beberapa minggu terakhir ini saya bicarakan.

Terlepas dari ‘peristiwa’ –yang menurut saya menarik- atas gugurnya perusahaan-perusahaan dotcom beberapa tahun kebelakang, media internet sebagai media massa sebenarnya termasuk sebuah media yang paling fenomenal ditinjau dari pertumbuhan ‘rating’ penggunanya –atau pemirsanya-.

Suatu ketika HBO pernah memberikan data terhadap khalayak di Amerika Serikat tentang jumlah interaksi masyarakat Amerika terhadap media. Butuh 38 tahun untuk media radio sehingga bisa menembus angka 50 juta pemakai di Amerika. Untuk televisi, lebih singkat, hanya butuh 13 tahun. Jaringan media lewat kabel (fax, telepon, TV kabel), sekitar 10 tahun. Dan terakhir media Internet, ternyata hanya butuh 5 tahun!

Menurut saya hal ini luar biasa. Mungkin itu pula yang menyebabkan sempat beberapa tahun lalu perusahaan dotcom merugi karena terlalu berharap banyak dengan pertumbuhan yang begitu besar. Seperti seorang Eko yang menjadi magnet bagi sebuah acara reality-show yang saya ungkap di atas, internet ini juga seolah menjadi magnet bagi khalayak di awal kemunculannya. Saking kuatnya magnet itu, sehingga 5 tahun pemakai begitu terpukau hanya ‘memandangi’ saja media internet, masih ‘kikuk’ dan ‘kebingungan’ sendiri untuk berinteraksi dengannya. Mungkin itulah kenapa perusahaan dotcom itu berguguran. Mereka terlalu berharap banyak di awal. Berharap orang yang memakai internet, serta merta menguasai dan bisa dengan nyaman memanfaatkannya.

Pada artikel saya terdahulu, saya bicara mengenai pentingnya bagaimana kita menyiapkan ‘wajah’ usaha kita di internet. Sampai di situ kita mungkin akan bertanya-tanya, lalu ketika ‘wajah’ itu telah bisa dibuat begitu ‘cantik’-nya, apakah media internet ini bisa begitu istimewa sehingga orang berkeinginan dapat selalu dengan mudah melihat kecantikannya? Kelebihan apa lagi bagi seseorang yang menjalankan usahanya lewat media internet, dibanding menggunakan media lainnya.

Korupsi Lagi…Korupsi Lagi

Agustus 2nd, 2008 by asepmuhsin

Mungkin kita tidak lagi terkejut ketika membaca berita utama media hari ini (3/3) tentang penangkapan Jaksa Urip Tri Gunawan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dengan tuduhan menerima suap sebesar US$660 ribu. Urip adalah Ketua Tim Jaksa Pemeriksa Kasus BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) yang menangani kasus Syamsul Nursalim, terkait Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI). Sehingga sudah bisa diduga, uang suap senilai Rp6,1 miliar itu, menurut KPK, ada kaitannya dengan kasus BLBI yang pernah ditangani Urip. Sementara, menurut pengakuan Urip, uang tersebut merupakan hasil jual beli permata, dan tak ada kaitan sama sekali dengan kasus BLBI yang ditanganinya.

Jaksa Agung pun berang, karena ia sudah sering mengingatkan para jaksa yang menangani kasus BLBI, agar tidak main-main atau mencari keuntungan dari penanganan kasus tersebut. Di sisi lain, pekan lalu, Kejaksaan Agung mengumumkan penghentian penyelidikan perkara korupsi BLBI, yang membuat kalangan DPR marah dan berniat “ngebut” dalam soal interpelasi serta menggulirkan hak angket. Wacana tentang peninjauan kembali penghentian penyelidikan perkara korupsi BLBI pun semakin mengemuka. Namun ujungnya, masih belum dapat kita duga.

Mengapa kita tidak terkejut membaca berita ini? Karena berita tentang terungkapnya kasus-kasus korupsi, sama banyaknya dengan berita tentang kenaikan harga komoditas migas maupun nonmigas yang tak kunjung tertanggulangi. Sama banyaknya dengan berita mengenai bencana alam yang masih terus terjadi, dan bencana akibat ulah manusia yang membuat negeri ini semakin semrawut. Berita tentang korupsi, menjadi “makanan” kita sehari-hari, seperti juga praktik korupsi itu sendiri, yang sadar ataupun tidak, kita alami setiap hari.

Praktek korupsi sudah dirasakan masyarakat sejak mereka mengurus Akte Kelahiran, Kartu Tanda Penduduk (KTP), Surat Izin Mengemudi (SIM), pembuatan paspor, mengurus administrasi pernikahan, bahkan hingga urusan pemakaman. Dengan kata lain, praktik korupsi di negeri ini sudah melilit warga negara, mulai dari buaian hingga ke liang lahat. Meski sudah ada ketentuan yang mengatur semua urusan, masyarakat telah terbiasa membayar lebih berbagai jasa pelayanan, agar segala urusan segera terselesaikan, dan (kalau yang ini mungkin tidak disadari banyak orang) semakin menyuburkan praktik korupsi.

Jadi jangan marah jika ada lembaga asing menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara terkorup. Juga jangan marah, bila ada yang mengatakan bahwa praktik korupsi sudah lama menjadi budaya di negeri ini. Betapa tidak, yang namanya korupsi sudah merajalela sejak nusantara masih terpecah-pecah dalam berbagai kerajaan. Keharusan membayar upeti mulai dari tingkat kelurahan hingga tingkat kerajaan, sudah menjadi hal yang lumrah. Lalu berlanjut hingga zaman penjajahan, dan terus diwariskan secara turun-temurun sejak awal zaman kemerdekaan hingga kini.

Karena itu, korupsi bukan hanya persoalan hukum semata, tetapi juga persoalan sosial, ekonomi, politik, budaya dan agama. Walhasil, jika ada pertanyaan: siapa yang paling bertanggung jawab atas semakin membudayanya korupsi di negeri ini? Jawabannya: semua warga negara Indonesia, semua lembaga, termasuk lembaga keagamaan. Bagaimana mengatasinya? Ada yang mengusulkan agar dilakukan dekonstruksi sosial dan reformasi kebudayaan. Tetapi siapa yang akan memulainya, dan siapa yang akan mengawasi kelangsungannya? Ada juga yang mengusulkan agar dilakukan Tobat Nasional. Tetapi kalau Tobat Nasional hanya dilakukan secara seremonial dan tidak menyentuh lubuk hati setiap individu masyarakat, tentu tak ada manfaatnya.

internet +

Agustus 2nd, 2008 by asepmuhsin

Ketika saya mengenal internet untuk pertama kalinya,saya begitu tidak tertarik dengannya. Mengapa? karena disana tidak ditemukan sesuatu yang bernilai.Tau gak? nilai apa gerangan?

Bayangkan disana hanya ada gambar-gambar yang tak jelas maksud dan tujuannya, yang sebenarnya gambar-gambar itu bisa didapat dengan mudah, tanpa harus tepot-repot buka internet. Lalu, apa

Presiden Aja Open Office

Agustus 2nd, 2008 by asepmuhsin

1 Bulan yang lalu saya saya mengiuti kunjungan salah satu lembaga di Cianjur ke Istana Presiden untu bersilaturahmi dengan orang nomor 1 di Indonesia, ada waktu sebentar untuk main ke Setneg atau sekretariat Negara, anda ingin tahu Sistem Operasi apa yang digunakan…. Open Source !

Go Open Source !

Agustus 2nd, 2008 by asepmuhsin

Kebanyakan dari kita belum tahu kalau Sistem Operasi yang digunakan di sekolahan bisa jadi hukumnya Haram dan gak berkah , mungkin karena mereka gak tahu bahwa Sistem Op yanerasi yang digunakan menggunakan CD bajakan , CD bajakan hahahah hari gini pake bajakan.

Beruntung untuk Indonesia karena beberapa tahun  kebelakang  sudah mendeklarasikan adanya Software Open Source yang dikeluarkan oleh Linux, seperti halnya Blankon salah satu turunan dari ubuntuyang merupakan salah satu distro dari Linux.

Nah sekarang gak ada alasan lain lagi semua sekolah pakai sistem opersi yang gratis, halal, dan  damai. hehehe kapan anda Go Open Source !

Kata Siapa Internet Menyesatkan

Agustus 2nd, 2008 by asepmuhsin

Kontrovesial internet di Indonesia masih diperdebatkan di kalangan pondok pesantren, lembaga pendidikan,  dan lembaga lainnya, tapi tidak sedikit juga  diantara mereka menyokong internet.

Sebenarnya kalau kita bisa memanfaatkan sesuai dengan karakter sikap positif kita maka internet tidak bisa dikatkan sesat, bisa dikatakan ssat jika memang yang menggunakannya jug sesat. hehehehehe